Jungle trekking Bukit Lawang adalah berjalan kaki masuk ke Taman Nasional Gunung Leuser bersama pemandu lokal terdaftar untuk mencari orangutan Sumatera dan satwa lain. Pemandu wajib, ada tiket kawasan harian plus pungutan mendaki, dan peluang melihat orangutan cukup besar tetapi tidak pernah dijamin. Berikut cara kerjanya dan aturan yang berlaku.

Artikel ini bagian dari panduan wisata Bukit Lawang, yang membahas desa, tiket, dan aktivitas lainnya.

Fakta singkat

  • Pemandu dan registrasi: wajib untuk masuk kawasan; masuk tanpa pemandu dianggap ilegal (detikSumut, Feb 2023).
  • Tiket kawasan (PP 36/2024, sejak 30 Oktober 2024): WNA mulai Rp150.000 per hari; WNI mulai Rp10.000 (Senin–Sabtu) atau Rp15.000 (Minggu dan libur nasional); mendaki mulai Rp20.000 per orang per kegiatan; berkemah mulai Rp5.000 per orang per hari (Kompas, 25 Okt 2024).
  • Jarak dari orangutan: minimal 7 meter, sangat dianjurkan 10 meter (IUCN SSC Section on Great Apes).
  • Memberi makan: dilarang; papan BBTNGL di pintu masuk melarang memberi atau membawa makanan ke kawasan (Mongabay Indonesia, Okt 2015).
  • Durasi: mulai sekitar dua jam (detikSumut, Feb 2023) hingga trekking bermalam dengan berkemah, yang dikenai pungutan tersendiri.
Pendaki memotret orangutan di jalur hutan
Pendaki memotret orangutan di jalur hutanFoto: Visions of Domino · CC BY 2.0

Seperti apa jungle trekking di Bukit Lawang?

Trekking dimulai dengan berjalan kaki dari desa. Wartawan Kompas yang ikut trekking pada September 2022 menggambarkan tanjakan 200–300 meter di awal, mula-mula berupa tangga lalu bebatuan licin, kemudian sekitar satu jam berjalan melewati kebun warga hingga batas kawasan. Rombongan melihat orangutan di atas pohon di kebun warga sebelum masuk kawasan, dan lutung Thomas di dalam hutan; pemandu menyarankan sepatu, bukan sandal.

Wartawan detikSumut pada Februari 2023 berjalan sekitar dua jam di hutan bersama pemandu ranger anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), lalu kembali ke desa menyusuri Sungai Bohorok dengan ban yang dirakit seperti perahu.

Pasang harapan yang realistis. Pemandu yang dikutip Kompas mengatakan orangutan yang benar-benar liar sulit ditemukan dan peluangnya "tidak terlalu besar". Orangutan semi-liar, banyak di antaranya bekas orangutan rehabilitasi atau keturunannya, lebih sering terlihat.

Berapa lama sebaiknya trekking?

Saran kami: pilih berdasarkan kebugaran dan waktu, bukan janji lebih banyak orangutan:

  • Sekitar dua jam: pertama kali ke hutan hujan, keluarga dengan anak yang lebih besar, atau sore hari setelah tiba sehari sebelumnya.
  • Sehari penuh: masuk lebih dalam, biasanya singgah di sungai atau air terjun; banyak rute diakhiri tubing kembali ke desa.
  • Bermalam dengan berkemah: untuk yang bugar dan ingin merasakan hutan saat senja dan subuh; sisihkan satu hari istirahat sesudahnya.

Trekking lebih panjang tidak menjamin perjumpaan lebih banyak. Kebanyakan trekking dimulai pagi, jadi jangan menjadwalkannya di hari perjalanan dari Medan; panduan perjalanan Medan ke Bukit Lawang membantu mengatur jam kedatangan.

Para pendaki beristirahat di bebatuan tepi sungai di hutan
Para pendaki beristirahat di bebatuan tepi sungai di hutanFoto: Visions of Domino · CC BY 2.0

Izin, tiket, dan isi paket trekking

Karena registrasi dan pemandu wajib, dalam praktiknya pemandu yang mengurus izin masuk kawasan. Tiket dan pungutan di atas ditetapkan pihak taman nasional menurut PP 36/2024, seperti diberitakan Kompas pada Oktober 2024; tarif bisa berubah, jadi cek ulang sebelum berangkat. Tarif pemandu tidak ditetapkan taman nasional dan bergantung pada durasi serta jumlah peserta. Sebelum membayar, minta rincian yang jelas: tiket dan pungutan kawasan, makan, air minum, perlengkapan kemah, dan tubing kembali ke desa. Bawa fotokopi KTP atau paspor untuk registrasi.

Bagaimana memilih pemandu yang bertanggung jawab?

Tanyakan kepada setiap pemandu:

  • Apakah Anda memberi makan atau memanggil orangutan? Satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah tidak.
  • Berapa orang dalam satu rombongan? Rombongan kecil lebih sedikit mengganggu satwa.
  • Apakah Anda sendiri yang memandu?
  • Bagaimana jika hujan deras? Pemandu yang baik mengganti rute atau menunda, bukan mengambil risiko di sungai yang meluap.

Aturan saat melihat orangutan

Orangutan Sumatera berstatus kritis, dan Bukit Lawang punya riwayat pengunjung memberi makan orangutan. Mongabay Indonesia memberitakan seorang wisatawan digigit pada Agustus 2015 saat memberi makan orangutan dari jarak dekat, dan bahwa BBTNGL berhenti menganggarkan pakan tambahan pada tahun itu karena orangutan sudah cukup makan dari hutan (Mongabay Indonesia, Okt 2015). Kepala BBTNGL juga mengimbau pengunjung menjaga jarak dan tidak memberi makan orangutan (VOA Indonesia, Apr 2023).

  • Jangan memberi makan satwa apa pun, dan simpan camilan rapat-rapat.
  • Jaga jarak 10 meter dan mundur jika orangutan mendekat. Pedoman IUCN menetapkan minimal 7 meter dan sangat menganjurkan 10 meter.
  • Jangan trekking saat sakit. Pedoman IUCN meminta orang yang sedang sakit, atau berkontak dengan orang sakit dalam 14 hari terakhir, tidak mengunjungi kera besar karena penyakit manusia bisa menular kepada mereka.
  • Tenang, jangan menyentuh, memancing, atau mengejar. Jangan berdiri di antara induk dan anaknya.
  • Bawa semua sampah kembali ke desa.

Jika pemandu melanggar aturan ini demi foto yang lebih bagus, tolak.

Induk orangutan Sumatera bersama anaknya di Taman Nasional Gunung Leuser
Induk orangutan Sumatera bersama anaknya di Taman Nasional Gunung LeuserFoto: Yudhapohan · CC BY-SA 4.0

Satwa apa lagi yang mungkin terlihat?

Lutung Thomas atau kedih, primata yang hanya ada di Sumatera, mudah dijumpai di jalur trekking; menurut pemandu yang dikutip Kompas, setidaknya 75 persen makanannya berupa daun. Monyet ekor panjang, rangkong, dan biawak juga sering terlihat. Satwa besar di kawasan TNGL yang luas, seperti harimau, sangat jarang dijumpai di dekat Bukit Lawang.

Barang yang perlu dibawa

  • Sepatu bersol bergerigi, dan kaus kaki anti-pacet di bulan-bulan basah.
  • Baju lengan panjang dan celana panjang yang cepat kering, plus jas hujan ringan.
  • Dry bag untuk ponsel dan dokumen, serta air minum yang cukup.
  • Lotion antinyamuk, kotak P3K kecil, dan obat pribadi.
  • Headlamp dan pakaian kering cadangan untuk trekking bermalam.

Trekking saat hujan

Hujan membuat jalur licin, pacet lebih aktif, dan air sungai bisa naik cepat. Siapkan satu hari cadangan dan ikuti keputusan pemandu soal rute. Untuk memilih tanggal, baca cuaca dan waktu terbaik ke Bukit Lawang; jika trekking Anda diakhiri di sungai, baca dulu tubing di Sungai Bohorok.

Menginap sebelum dan sesudah trekking

Dengan check-in mulai pukul 14:00 dan check-out paling lambat pukul 12:00, dua malam pas untuk trekking sehari penuh: tiba di hari pertama, trekking di hari kedua, pulang di hari ketiga. Rindu Alam Hotel memiliki 71 kamar dan kamar mandi berpemanas air untuk mandi air hangat setelah trekking; lihat tipe kamar dan ketersediaan. Untuk membandingkan penginapan di desa, baca panduan hotel dan penginapan di Bukit Lawang. Ada pertanyaan soal tanggal trekking? Gunakan tombol WhatsApp di halaman ini.

Sumber