Goa Kelelawar Bukit Lawang, yang juga disebut Gua Kampret, bisa dicapai berjalan kaki dari desa: sekitar 15 menit dari pintu masuk kawasan wisata menurut Kompas, atau kira-kira 3 km dari tepi sungai menurut cerita perjalanan di detikTravel. Sediakan setengah hari, bawa senter, pakai alas kaki yang tidak licin, dan sebaiknya pergi bersama guide lokal.

Fakta singkat

  • Jarak: sekitar 15 menit berjalan kaki dari pintu masuk kawasan wisata Bukit Lawang (Kompas, Agustus 2020); sekitar 3 km dari tepi Sungai Bohorok melewati kebun karet dan sawit (detikTravel, Februari 2014).
  • Di dalam: lorong sekitar 1 km (detikTravel), dihuni ribuan kelelawar, dengan stalaktit besar yang menurut Kompas terbentuk sejak ratusan tahun lalu.
  • Cahaya: sebagian gua gelap total; Kompas dan Wikivoyage sama-sama menyarankan membawa senter.
  • Masuk: ada biaya kecil yang dibayar ke penjaga setempat di dekat gua (detikTravel; Wikivoyage). Angka di kedua sumber itu sudah lama, jadi tanyakan harga terbaru di lokasi. Desa Wisata Perkebunan Bukit Lawang mencantumkan paket tur Goa Kelelawar bersama pemandu di portal Jadesta Kemenpar.
  • Kesehatan: jamur penyebab histoplasmosis menyebar lewat kotoran burung dan kelelawar yang bercampur tanah, dan orang tertular karena menghirup sporanya (CDC).

Halaman ini bagian dari panduan wisata Bukit Lawang. Di sini kami membahas satu kegiatan secara rinci; gambaran desa, tiket taman nasional, dan cara ke sana ada di panduan utamanya.

Seberapa jauh Goa Kelelawar, dan kenapa sumbernya berbeda?

Kedua angka diukur dari titik yang berbeda. Kompas menghitung dari pintu masuk kawasan wisata, sedangkan penulis detikTravel berangkat dari tepi Sungai Bohorok lalu berjalan melewati kebun karet dan sawit warga. Dalam praktiknya, jalan kakinya bisa seperempat jam sampai hampir satu jam, tergantung lokasi menginap dan seberapa sering Anda berhenti. Menurut detikTravel, warga sudah memasang petunjuk arah di sepanjang jalur, dan bagian terakhir berupa tanjakan pendek dengan undakan di lereng serta akar pohon untuk berpegangan.

Namanya sederhana: "kampret" adalah sebutan untuk kelelawar kecil, dan gua ini dinamai sesuai penghuninya. Biasanya Anda sudah mendengar dan mencium keberadaan mereka sebelum melihatnya.

Apa saja yang ada di dalam gua?

Pengunjung biasanya menggambarkan gua ini dalam empat bagian:

  • Mulut gua: udara sejuk dan lembap, serta stalaktit dan stalagmit pertama.
  • Ruang besar yang gelap total: tidak ada cahaya matahari yang masuk, di sinilah senter benar-benar dibutuhkan. Kompas menyebut ada beberapa stalaktit berukuran besar.
  • Ruang kelelawar: bau kotoran kelelawar yang menyengat dan suara kepak sayap saat koloni terusik.
  • Berkas cahaya: di beberapa titik, sinar matahari masuk lewat celah batu, pemandangan yang banyak diburu pengunjung untuk difoto. Berkas cahaya paling jelas saat matahari sudah cukup tinggi dan langit cerah, jadi pertengahan pagi adalah waktu yang pas.
Pepohonan tinggi dan akar gantung di Gua Kelelawar
Pepohonan tinggi dan akar gantung di Gua KelelawarFoto: Astari28 · CC BY-SA 4.0

Apakah perlu guide atau tiket?

Siapkan biaya masuk untuk penjaga, dalam uang pecahan kecil. Guide sebenarnya tidak wajib untuk menemukan gua karena jalurnya sudah diberi petunjuk, tetapi saran kami, tetap pakai guide untuk bagian dalam. Guide tahu lorong mana yang bisa dilewati, kapan batu terlalu basah, dan cara melewati ruang kelelawar tanpa mengganggu koloninya. Sepakati harga dan apa saja yang termasuk sebelum berangkat.

Apa yang sebaiknya dipakai dan dibawa?

  • Sepatu atau sandal gunung yang tidak licin. Penulis detikTravel mengingatkan bebatuannya sangat licin dan jalannya becek.
  • Headlamp atau senter dengan baterai cadangan. Lampu ponsel bisa dipakai darurat, tetapi headlamp membuat kedua tangan bebas.
  • Pakaian yang siap kotor, sebaiknya yang cepat kering.
  • Air minum, tanpa makanan. Penjaga meminta pengunjung tidak membawa makanan ke dalam gua dan tidak meninggalkan sampah (detikTravel).
  • Kantong kedap air untuk ponsel, serta sabun atau hand sanitizer untuk sesudahnya.

Amankah masuk Goa Kelelawar?

Risiko utamanya adalah terpeleset, gelap, dan kotoran kelelawar. Pastikan selalu ada tiga titik tumpuan di batu basah, tetap di jalur utama, dan jangan memaksa masuk ke celah sempit di samping. Jangan pernah menyentuh kelelawar, hidup maupun mati, hindari menyentuh kotorannya, dan cuci tangan setelah keluar. Karena CDC mencatat histoplasmosis bisa menjadi infeksi paru jangka panjang pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, siapa pun dalam kondisi itu sebaiknya bertanya ke dokter sebelum masuk gua yang dihuni banyak kelelawar.

Hujan juga mengubah kunjungan. Setelah hujan deras, jalan setapak di kebun berubah jadi lumpur, undakan ke mulut gua licin, dan air bisa menetes atau mengalir di dalam gua. Jika semalam hujan lebat, tanyakan ke guide apakah rutenya masih masuk akal hari itu, atau ganti dengan kegiatan yang lebih santai.

Bagaimana memasukkannya ke rencana liburan?

Karena dekat desa, gua ini cukup untuk satu pagi. Contoh rencana, silakan disesuaikan bersama guide:

  • 08.00 sarapan dan bertemu guide
  • 08.30 berjalan melewati desa dan kebun
  • 09.30 menjelajah gua dengan senter
  • 11.00 berjalan pulang, membersihkan sepatu, dan mencuci tangan
  • 12.00 makan siang dan istirahat

Gua ini pas sebagai hari yang lebih ringan setelah jungle trekking mencari orangutan. Jika debit sungai normal, sorenya bisa dipakai untuk tubing di Sungai Bohorok sambil membilas lumpur.

Shower kamar mandi dengan pemanas air
Shower kamar mandi dengan pemanas air di Rindu Alam Hotel

Tempat menginap

Setelah pagi yang penuh lumpur, mandi air hangat terasa sangat berarti. Kamar mandi di Rindu Alam Hotel dilengkapi pemanas air, dan ada teras berkursi bambu di depan kamar untuk bersantai sesudahnya. Hotel ini memiliki 71 kamar dalam empat tipe untuk pasangan, keluarga, maupun rombongan; per September 2026 harga mulai Rp500.000 per malam untuk Standard Room (tanpa sarapan). Cek ketersediaan di halaman kamar, atau tekan tombol WhatsApp di halaman ini untuk bertanya kepada tim kami.

Sumber